Alat Musik Gong = Kromong (Sangga)

Provinsi: 
Kalimantan Barat

Gong, atau disebut juga dengan Kromong (Sangga) adalah nama sebuah alat musik tradisional di Kalimantan Barat yang dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari dalam bidang kesenian atau bisa juga dipakai pada waktu pelaksanaan upacara adat. Alat musik gong ini dibuat dari bahan biji besi.

alat musik tradisional Kalbar

Persebaran gong di Kalimantan memiliki sejarah yang cukup panjang, atau paling tidak ada hubungannya dengan Cina dan kerajaan Majapahit. Menurut cerita rakyat di Kalimantan Barat bahwa hubungan dengan kerajaan Majapahit diawali dengan perkawinan Prabu Jaya putra keturunan Majapahit yang mempersunting putri Dayang Putung (putri Junjung Buih), anak ke tujuh dari pasangan suami istri Teruna Munang dan teruna Moning. Dalam perkawinan tersebut, ia diberikan mas kawin berupa satu kalung emas, satu perahu sepanjang tujuh depa, empat puluh orang laki-laki dengan pasangannya, dan gamelan beserta gong. Besar kemungkinan bahwa 40 lelaki dari Jawa tersebut adalah para pemain gamelan yang dipersembahkan untuk calon mempelai wanita putri Dayang Putung. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya instrumen gong, saron dan gamal atau kromong (sejenis bonang Jawa berjumlah 5 buah). Persebaran gong di daerah-daerah pedalaman bisa dikatakan begitu cepat karena masyarakat sangat membutuhkan gong tersebut untuk keperluan upacara. Gong bukan hanay dianggap sebagai alat musik semata, melainkan sebagai suatu benda yang memiliki nilai religius. Hal ini dapat dibuktikan dari fungsi gong itu sendiriyang sering dipakai sebagai syarat utama dalam adat perkawinan, bayar adat, upacara kematian dan lain sebagainya. Di samping itu bahwa gong juga digunakan sebagai musik hiburan dalam pesta adat, seperti: gawai (pesta panen), penyambutan tamu dan pengiring taria-tarian. 

Gong dimainkan dengan pola pola pukulan yang sangat sederhana. Adapun sebagai pengisi permainan melodi yakni dengan digunakan alat musik kanong/gamal yang berjumlah empat sampai enam buah. Pada dasarnya alat musik ini menggunakan tangga nada pentatonik anhemitonik, yaitu lima nada dengan jarak utuh atau tanpa menggunakan jarak nada setengah mirip tangga nada slendro diatonis yang sering disebut slendro Cina. 

Sumber data:

Haryanto, 2015. Musik Suku Dayak. Sebuah Catatan Perjalanan di Pedalaman Kalimantan. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI.

Penginput data: Neni Puji Nur Rahmawati