AMMATOA DALAM KELEMBAGAAN KOMUNITAS ADAT KAJANG

Pengarang: 

ABDUL HAFID

Penerbit: 

BPNB MAKASSAR

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

3.4 (300-3

ISSN/ISBN: 

978-602-263-035-8

AMMATOA DALAM KELEMBAGAAN KOMUNITAS ADAT KAJANG

Kelembagaan komunitas adat Kajang merupakan suatu lembaga adat yang masih konsisten dalam menerapkan aturan dan norma-norma yang tertuang dalam Pasang. Aturan yang tidak tertulis ini merupakan pedoman komunitas adat dalam bertindak dan berprilaku. Ammatoa sebagai pemimpin adat diberi amanah untuk senantiasa menjalankan dan menjaga kemurnian isi dari Pasang. Ammatoa dan masyarakatnya masih memegang prinsip hidup kamase-masea (kesederhanaan) serta masih mempertahankan pola hidup tradisional baik sistem sosial, budaya, politik maupun religinya. Struktur kelembagaan pada komunitas adat Kajang meliputi Ammatoa, Karaeng Tallua dan ada’ limayya yang bergelar galla’. Ammatoa sebagai perwakilan dari Sang Pencipta (Turi’e a’ra’na) dan dibantu oleh lima orang galla’ dan aparat adat lainnya yaitu Anronta (guru agama) dan sanro pakrasangang (dukun kampung). Dalam struktur kelembagaan adat Kajang masih mempunyai kewenangan/kekuasaan untuk menentukan dan memberikan sangsi kepada masyarakat yang melakukan pelanggaran adat, meskipun komunitas adat ini sudah diatur dalam sistem pemerintahan formal. Untuk menentukan pelanggarannya, Ammatoa melakukan dua bentuk prosesi hukum yaitu dengan memegang linggis yang membara (attunu panroli) dan dengan membakar kemenyan (attunu passau) yang disertai dengan mantra-mantra. Jenis-jenis sanksi/denda tersebut juga dapat dilakukan dengan menerapkan denda materil melalui pembayaran uang tunai. Ammatoa sangat berperan dalam melestarikan lingkungan alam (hutan) maupun dalam menyelesaikan berbagai bentuk pelanggaran adat yang terjadi dalam kawasan adat Kajang. Warga adat kajang sangat menggantungkan hidupnya pada keberadaan sebuah hutan adat disekitar domisili mereka, terutama borong karamaka.