BATATAMBA  PENGOBATAN TRADISIONAL DI KALIMANTAN SELATAN

Pengarang: 

SISVA MARYADI

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK 

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

615.6 (610-619)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
30

Dalam masyarakat di Kalimantan Selatan, prosesi pengobatan secara tradisional dinamakan dengan istilah batatamba. Batatamba memiliki keunikan tersendiri dan local wisdom (local genius) yang terwariskan dari generasi ke generasi. Keunikan batatamba dalam masyarakat Banjar, karena selain menggunakan ramuan tradisional dan mantera (jampi) dari seorang pananamba (tabib), batatamba juga menggunakan benda-benda tertentu sebagai syarat pengobatan misalnya kain sasirangan yang dililitkan di kepala (laung) atau diselimutkan dibadan untuk menyembuhkan sakit kapingitan atau sakit panas. Batatamba tidak hanya berhubungan dengan sakit yang bersifat medis atau sakit psikologis, tetapi berkaitan pula dengan sakit magis yakni sakit yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari unsur, kekuatan atau entitas gaib. Ritual batatamba dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat yang berhubungan dengan pemaknaan mereka atas alam lingkungan sekitarnya. Dalam masyarakat tabib atau pananamba merupakan tokoh penting dalam ritual pengobatan, karena kemampuannya dalam memberikan pertolongan dan pengobatan, baik penyakit yang bersifat fisik maupun mental. Beberapa gejala penyakit yang harus diobati dengan proses batatamba antara lain; badan anak yang panas terus-terusan merupakan pertanda si anak kapidaraan; jodoh terkunci sehingga lambat kawin harus dimandikan dengan air kembang tujuh rupa dan kain tiga warna dan sebagainya. Masyarakat di Kalimantan Selatan mengenal 3 proses batatamba yaitu secara agama, secara tradisional, dan perpaduan antara agamis dan tradisional. Dalam proses pengobatan secara agamis ada 2 macam perlakuan yang diberikan yaitu dengan media air dan di rajah. Pengobatan dengan media kain pamintan/sasirangan biasanya dipakai oleh keturunan bangsawan. Perpaduan antara agamis dan tradisional, dalam proses pengobatannya petatamba memakai mantera atau doa-doa yang bersumber dari agama Islam dan tata cara pelaksanaannya masih memakai tradisi Dayak.