BIANGLALA KEHIDUPAN BAGINDO TAN LABIH :  SUMANDO DAN DUBALANG TUANKU IMAM BONJOL YANG SETIA (1799 - 1888)

Pengarang: 

SJAFNIR ABOE NAIN Dt. KANDO MARAJO

Penerbit: 

BPNB SUMATERA BARAT

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

BSL - 922 (920-929)

ISSN/ISBN: 

978-602-8742-97-9

Jumlah Halaman: 
163

Buku ini merekonstruksi satu episode sejarah mengenai peranan seorang pejuang Bagindo Tan Labih dalam melawan kolonialisme Belanda. Bagindo Tan Labih gelar Datuk Bandaro Rajo Ulakan lahir di Kuraitaji, Pariaman tahun 1799. Bagindo Tan Labih sebagai pewaris Raja Ulakan atau Kuraitaji prihatin dengan politik pecah belah Belanda untuk menguasai Rantau Pariaman dan pelabuhan dagang di pantai barat Sumatera. Ia tinggalkan Ulakan dan Kuraitaji sebagai pewaris raja dan bergabung dengan Tuanku Imam, seorang tokoh Gerakan Padri di Bonjol. Belum mencapai usia 40 tahun, ia dibuang bersama Tuanku Imam Bonjol ke Manado, ditawan dan diasingkan karena dianggap sebagai pemberontak Perang Padri selama 15 tahun. Di Manado Tuanku Imam Bonjol ditempatkan ke negeri Tondano, beberapa waktu kemudian dipindahkan ke desa Koka. Pada saat yang bersamaan dipindahkan ke Lotak, 3 km dari Koka, 9 km dari Manado.