ELITE DALAM STRUKTUR POLITIK DI BERAU (1942-1959)

Pengarang: 

JUNIAR PURBA, YUVER KUSNOTO, BASUKI WIBOWO

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK KEMENDIKBUD

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Timur
Rak: 

KTI - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-91-3

Jumlah Halaman: 
84

Sejak dahulu wilayah Berau sudah dikenal oleh dunia luar terlebih bangsa asing yang ingin menguasainya. Kedua kesultanan di Berau (Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Samabliung) hingga saat ini masih dapat dijumpai situs dan peninggalannya dan bahkan kerabat kesultanan yang masih tinggal di keraton. Sebelum masa kemerdekaan, Kesultanan di Berau dipimpin oleh Sultan dan mereka dianggap sebagai elite lokal yang berkuasa. Elite ini bertugas untuk mengatur wilayahnya, sehingga sewaktu kedatangan bangsa asing banik itu Belanda dan Jepang, penguasa lokal ini yang lebih dahulu dijumpai guna memperoleh ijin masuk wilayahnya. Namun, kekuasaan elite lokal dibatasi dan tidak bebas karena campur tangan pihak asing lebih dominan dan sangat berpengaruh dalam pemerintahan wilayah. Demikian pula pada masa Jepang, pemerintahannya masih menggunakan yang berlaku pada masa Belanda hanya istilah dalam pemerintahan saja yang berubah. Kehidupan rakyat pada masa Jepang/sebelum kemerdekaan di Berau sangat prihatin, mereka hanya dijadikan sebagai objek kekuasaan.