HIBUA LAMO DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT ADAT TOBELO DI HALMAHERA UTARA

Pengarang: 

USMAN THALIB, TONTJE SOUMOKIL, JHON PATTIASINA, RABIYATUL UZDA

Penerbit: 

BPNB AMBON

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Maluku
Rak: 

MAD (300-319)

ISSN/ISBN: 

978-979-1463-34-8

Jumlah Halaman: 
216

Hibua Lamo yang berarti rumah besar telah dijadikan simbol masyarakat adat di Halmahera Utara sekaligus simbol pemerintah Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara. Buku Hibua Lamo ini merupakan konstruksi dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat yang mengidentifikasi dirinya sebagai komunitas Hiboa Lamo. Nilai-nilai dalam masyarakat Hibua Lamo itu terkristalisasi dalam suatu konsep bersama yang disebut Nanga Tau Mahirete (rumah kita bersama). Orang-orang Tobelo, Galela dan Loloda yang tersegregasi secara geografis, dan terbelenggu dalam tradisi, agama dan kepercayaan yang berbeda, dipahami dan dihayati dengan kesucian hati dan kemurnian pikiran, untuk kemudian dengan sangat cerdas (local genius) direspons dalam sebuah ungkapan filosofis "Ngone O'Ria Dodoto" yang bermakna satu ibu satu kandung. Konsekuensi logis dari falsafah Nanga Tau Mahirete dan Ngone O'Ria Dodoto" itu adalah lahirnya sebuah komunitas asli Halmahera Utara daratan maupun kepulauan dalam satu kesatuan yang teridentifikasi sebagai komunitas Hibua Lamo, untuk kemudian tersimbolisasi dalam rumah adat Hibua Lamo. Dalam konteks ini komunitas Tobelo, Galela dan Loloda mengalami proses kristalisasi dalam satu dunia sosiokultural baru yang dinamis yang landasannya sama yakni pada nilai-nilai O'dora (saling kasih), O'hayangi (saling sayang), O'Baliara (saling peduli), O'adili (perikeadilan), dan O'diai (kebenaran) dalam bingkai "Nanga Nanga Tau Mahirete dan "Ngone O'Ria Dodoto".