HUBUNGAN SOSIAL PASCA KONFLIK (KASUS: KELURAHAN SALASSA DAN DESA BAEBUNTA)

Pengarang: 

IRIANI

Penerbit: 

BPNB MAKASSAR

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

3.4 (300-3

ISSN/ISBN: 

978-602-263-036-4

HUBUNGAN SOSIAL PASCA KONFLIK (KASUS: KELURAHAN SALASSA DAN DESA BAEBUNTA)

Hubungan sosial masyarakat di Kelurahan Salassa dan Desa Baebunta sebelum terjadi konflik mengalami proses sosial yang cukup lama dan penuh dengan dinamika. Dalam proses interaksi selama bertahun-tahun antara pendayang dan penduduk asli yang berbeda latar belakang budaya dan agama akhirnya menimbulkan hubungan-hubungan yang bersifat assosiatif dan disasosiatif. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat di Salassa dan Baebunta dimulai dengan adanya kecemburuan sosial diantara pendatang dan penduduk asli dari segi ekonomi, adanya perbedaan budaya atau budaya yang bertentangan dengan budaya masyarakat setempat. Dengan berbagai macam usaha, akhirnya kedua belah pihak berhenti bertikai dan mereka sepakat untuk berdamai melalui sholat idul fitri. Pasca konflik, masyarakat di Kelurahan Salassa dan Baebunta mulai membangun kembali rumah-rumah mereka yang rusak dan kembali beraktivitas seperti biasa. Hubungan sosial pun lama-kelamaan terjalin kembali seperti sedia kala. Rasa dendam sudah mulai menghilang di antara mereka yang berkonflik. Masyarakat selalu berusaha menjaga perdamaian, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan beragama, sehingga selalu tercipta kerukunan diantara pendatang dan penduduk asli. Mereka menganggap secara kultural antara pendatang dan penduduk asli adalah satu, tidak ada yang superior dan tidak ada yang inferior.