IDENTITAS ORANG JAWA  ORANG JAWA DI NAGARI KOTO BARU KECAMATAN LUHAK NAN DUO PASAMAN BARAT

Pengarang: 

EFRIANTO. A DAN UNDRI

Penerbit: 

BPNB SUMATERA BARAT

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

KET - 305.8 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-602-6554-00-0

Jumlah Halaman: 
165

Nagari Koto baru merupakan sebuah nagari yang dihuni oleh berbagai etnis, bahkan sebagai orang berpendapat kawasan ini adalah Indonesia mini. Kedatangan orang Jawa ke kawasan ini telah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam konteks Nagari Koto Baru, orang Jawa yang datang pada periode awal ini bekerja untuk perkebunan Belanda di ophir. Mereka inilah yang menjadi orang pertama yang mendiami Nagari Koto Baru. Kelompok berikutnya Orang Jawa yang datang adalah ketika kawasan ini telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai lokasi penempatan transmigrasi. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa transmigran yang ditempatkan dikawasan ini juga adalah para pensiunan tentara yang tidak ingin kembali ke Jawa, namun ingin bertahan di Sumatera Barat. Perkembangan selanjutnya ada orang Jawa yang datang di Koto Baru, bukan dari unsur militer namun mereka pindah untuk memanfaatkan lahan yang ada di Koto Baru. Orang Jawa yang datang melalui program transmigrasi kehidupan mereka lebih baik, sebab mendapat fasilitas dari pemerintah baik dalam bentuk rumah, alat pertanian, jatah hidup dan lahan. Pasca PRRI, kelompok mantan tentara inilah yang masih bertahan hingga saat ini dan menikmati suksesnya hidup sebagai petani, terutama pasca berkembangnya kawasan ini menjadi sentral perkebunan kelapa sawit  maka kehidupan orang Jawa di kawasan ini juga berkembang kearah lebih maju. Menariknya orang Jawa di Koto Baru masih mempertahankan tradisi dan budaya yang mereka miliki. Hampir seluruh aspek kehidupan mereka masih mempertahankan adat dan budaya Jawa. Salah satu tradisi yang masih mereka pertahankan hingga hari ini adalah tradisi bersih kampung atau ruwatan. Aspek bahasa masih mempertahankan bahasa Jawa, sebagai media komunikasi. Dalam tradisi perkawinan, kelahiran dan kematian mereka masih mempertahankan adat dan tradisi Jawa walaupun tidak semua tahapan bisa dilaksanakan.