JURNAL PENELITIAN ARKEOLOGI KINDAI ETAM VOL. 2 NO. 1 NOVEMBER 2016

Pengarang: 

TIM PENULIS

Penerbit: 

BALAI ARKEOLOGI KALIMANTAN SELATAN

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

051 (050-059)

ISSN/ISBN: 

2541-1292

Jumlah Halaman: 
78

Jurnal Kindai Etam Volume 2 Nomor 1 Tahun 2016 ini mengusung tema "Arkeologi Keruangan dan Tradisi". Arkeologi keruangan adalah sebuah pendekatan yang mengkaitkan hubungan antara lokasi dan tinggalan arkeologi terutama dalam konteks bentuk, fungsi dan persebarannya. Adapun tradisi dalam pengertian arkeologi merupakan budaya dari masa prasejarah yang berlanjut hingga masa kini. Secara kewilayahan, isi jurnal edisi ini mencakup tiga pulau besar yaitu Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Dari lima artikel yang mengisi jurnal ini, dua diantaranya membahas tentang arkeologi keruangan, yaitu tulisan Sondang Martini Siregar tentang sebaran situs-situs Hindu-Budha dan jalur perdagangan di Sumatera Selatan. Serta artikel Nia Marniati Etie Fajari tentang survei arkeologi di Pulau Laut, Kotabaru Kalimantan Selatan. Artikel Sondang yang mengawali jurnal ini melacak jejak jalur perdagangan pada masa Hindu-Budha di Sumatera Selatan berdasarkan persebaran situs-situs Hindu-Budha di wilayah tersebut. Artikel kedua, Nia Marniati Etie Fajari menulis tentang sebaran situs-situs di Pulau Laut yang merupakan situs lintas masa, yaitu dari masa prasejarah, Islam hingga Kolonial. Artikel ketiga dan keempat membahas tradisi dengan pendekatan arkeologi keruangan, yaitu artikel tentang tinggalan arkeologi pada tempat-tempat sakral di Karawang, Jawa Barat yang ditulis oleh Libra Hari Inagurasi, dan artikel tentang tradisi di DAS Barito Kalimantan Tengah yang ditulis oleh Nugroho Nur Susanto. Berdasarkan tinggalan budayanya, Libra menggambarkan keberlangsungan religi masyarakat Kerawang sebelum kedatangan Islam hingga kini. Pada jurnal ini, Nugroho Susanto memfoluskan penelitiannya di Hulu Sungai Barito, yaitu di Kabupaten Barito Timur dan Barito Selatan. Jurnal ini ditutup dengan tulisan Nasruddin tentang peranan manik-manik pada suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Dengan pendekatan etnoarkeologi, Nasrudin menggambarkan fungsi manik-manik dalam sistem sosial masyarakat Dayak Ngaju.