MAKEPUNG JEMBRANA PROVINSI BALI

Pengarang: 

I NYOMAN SUARKA, IDA BAGUS DHARMIKA, I MADE DHARMA SUTEJA, HARTONO, NI LUH SUTJIATI BERATHA, I KETUT SUDEWA, PUTU KAMASAN SANJAYA

Penerbit: 

BPNB BADUNG

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Bali
Rak: 

RKE - 798.8 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-602-7961-03-6

Jumlah Halaman: 
34

Masyarakat Jembrana adalah masyarakat yang memang suka mabarung, yaitu mengadakan pertandingan seperti jegog mabarung, kendang mabarung, mabente (adu kaki), majangka (panco), makepung, dll. Warisan budaya nonbenda yang sangat spesifik dimiliki oleh masyarakat Jembrana dan telah menjadi salah satu identitasnya adalah makepung. Makepung adalah suatu atraksi pacuan atau balapan kerbau yang hanya terdapat di Kab. Jembrana, sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Bali dan menjadi ciri khas dan/atau simbol kebanggaan Kab. Jembrana. Pada saat ini, lomba makepung tidak hanya diikuti oleh para petani tetapi juga bukan petani. Oleh karena itu, kerbau yang dipakai perlombaan tidak hanya dipelihara oleh petani tetapi juga oleh pengusaha sebagai sambang status sosial. Hal terpenting dibalik tradisi lomba makepung adalah sebagai wahana untuk meredam konflik sosial dalam masyarakat. Dalam tradisi ini diperlukan beberapa peralatan yang sangat unik, indah, menarik diantaranya sepasang kerbau laki-laki (kebo) yang sudah dikebiri dan kira-kira berumur 3 tahun; cikar; uga; cagak; sambed; klengan; gongseng; rumbing; selongsong; bongkol. Sejak makepung dengan menggunakan cikar tahun 1959 pacuan kerbau sudah menggunakan hiasan tertentu dan menarik sesuai dengan cikar yang ditariknya. Tradisi ini memiliki enam sirkuit hingga sekarang meliputi Delod Berawah, Merta Sari, Kaliakah, Pangkung Dalem, Tuwed, dan Awen. Atraksi ini diselenggarakan setiap tahun mulai dari Juli s/d November, dari satu sirkuit ke sirkuit lain secara bergiliran dengan tenggang waktu 2 minggu sekali. Hal yang perlu diperhatikan sebelum terjun ke arena pakepungan adalah makanan kerbau harus ditingkatkan dan bergizi.