MAKNA TEMPAT PETILASAN DAN SAJEN DALAM TRADISI PERANG OBOR DI TEGALSAMBI TAHUNAN KABUPATEN JEPARA

Pengarang: 

MUDJIJONO DAN ISNI HERAWATI

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

TDK - 399 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-77-8

Jumlah Halaman: 
103

Perang obor sudah dilaksanakan tiap tahun di Desa Tegalsambi Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara. 35 hari sebelum penyelenggaraan upacara perang obor masyarakat mengadakan ritual atau barikan ke makam leluhur dan menggunakan sajen untuk persembahan. Persiapan perang obor dimulai dengan kerja bakti membersihkan makam dan petilasan yang ada di wilayah Desa Tegalsambi, terutama yang berkaitan dengan perang obor. Pada waktu yang telah ditentukan, masyarakat dan perangkat desa mangadakan barikan atau selamatan untuk berdoa bagi keselamatan warga dan perangkat desa. Selesai acara tersebut selalu dilakukan makan bersama atau dhahar kembul. Perang obor dilaksanakan tidak lebih dari satu jam, dengan pemain sebanyak 30 orang dan menghabiskan sekitar 300 buah obor. Obor dibuat dari klaras dan blarak. Tiap obor yang disulut harus sampai habis. Secara umum para pelibat perang obor terdiri dari masyarakat yang menyediakan sarana, sajen dan perlengkapan lainnya. Unsur dominan dalam prosesi perang ini diantaranya sajen, makam dan petilasan. Makna secara umum yang dapat dipetik dari kajian tentang sajen dan petilasan yang terkait perang obor adalah adanya struktur sosial dan struktur ekonomi. Jauh dari sebelum puncak acara perang obor di makam atau petilasan yang terkait dengan Desa Tegalsambi dilakukan slamatan. Slamatan ini dilakukan secara berurutan dari makam mbah Tegal yang dianggap sebagai cikal bakal desa. Makna lain yang terkandung dalam perang ini adalah sportivitas. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari ada pemain obor sebagai lawannya, mereka tidak boleh berseteru. Artinya setelah perang obor usai diantara mereka saling berjabat tangan dan langsung bertegur sapa.