METODE PENDIDIKAN SENI KARAWITAN BALI UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Pengarang: 

I GUSTI BAGUS ARSAJA DAN I WAYAN RADJIN

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

 

Daerah/Wilayah: 
Bali
Rak: 

RKE - 780.7 (780-789)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
79

Pengertian karawitan itu tidak jauh dengan pengertian musik tradisional daerah di Indonesia yang memakai laras slendro dan pelog. Musik tradisi daerah Bali yang mencakup masalah tembang dan tabuh atau musik vocal dan music instrumental inilah yang disebut dengan Karawitan Bali. Dalam karawitan Bali mempunyai sistem susunan 5 nada yang sering disebut sistem panca nada dan sistem susunan 7 nada yang sering juga disebut sistem sapta nada, disamping itu dalam karawitan Bali menggunakan 2 laras yaitu laras slendro dan pelog. Cara penyampaian dalam metode belajar karawitan Bali dapat dibagi menjadi 2 macam cara yaitu cara belajar dengan metode yang bersifat tradisional dan cara belajar dengan metode sistimatis. Cara penyampaian dalam metode belajar secara tradisional banyak dijumpai di masyarakat, dimana yang memegang peranan pokok adalah guru. Guru memberikan contoh lagu secara keseluruhan didalam pelaksanaan praktek, yang kemudian ditirukan bersama-sama. Sistem meniru dalam belajar Karawitan Bali ada 3 sistem yaitu sistem meniru mengikuti petunjukguru/tradisi lisan, sistem meniru “meguru panggul”, dan sistem meniru “miarsa”. Sedangkan melalui metode sistimatis, dapat diikuti melalui suatu petunjuk-petunjuk melalui sara penyampaian yaitu berupa notasi dan partitur. Jenis alat penunjang yang dipergunakan untuk mencapai keberhasilan pelajaran karawitan Bali di SMP diantaranya gamelan gong kebyar 1 barung, papan tulis dan perlengkapannya, partitur  lagu, catatan/buku petunjuk, serta tempat/aula.