NADITIRA WIDYA BULETIN ARKEOLOGI VOL. 10 NO. 1 

Pengarang: 

TIM PENYUSUN

Penerbit: 

BALAI ARKEOLOGI KALIMANTAN SELATAN

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

051 (050-059)

ISSN/ISBN: 

1410-0932

Jumlah Halaman: 
68

Terbitan buletin ini mencoba memainkan peran pengkajian, pengembangan, dan gagasan pelestarian agar objek arkeologi dapat dimanfaatkan dalam kondisi yang mendekati ideal. Berkaitan dengan maksud pengkajian, Bambang Sugiyanto memaparkan kajiannya mengenai rock-art. Jenis gambar gua-gua di kawsan karst Sangkulirang mangkalihat berupa telapak tangan, dengan berbagai bentuk dan variasinya. Dengan maksud untuk mengetahui waktu pembuatannya, hasil kajiannya menunjukkan bahwa proses pembuatan lukisan dinding pada masa lalu dilakukan secara berurutan. Dari objek tinggalan arkeologi masa klasik, Sondang Martini Siregar memaparkan agama Hindu di Bumiayu. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa awal perkembangan agama tersebut terjadi pada abad ke-9 Masehi dan mendapat pengaruh Tantrayana. Guna membantu melengkapi data, Fadlan S. Intan menawarkan metode pencarian data arkeologi yang masih berada di dalam tanah, yaitu dengan georadar. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan, objek arkeologi juga perlu dikaji dalam hal arah pengembangannya. Berkaitan dengan itu, Marlon Ririmasse memaparkan hasil penelitian arkeologi kepulauan Tanimbar dari tahun 2011-2014 dan rancangan pengembangannya. Memperhatikan paparan diatas, terlihat bahwa objek arkeologi memiliki manfaat yang penting sehingga harus dilestarikan. Berkaitan dengan pelestarian, Wasita menyebutkan bahwa masalah pelestarian tidak jarang disebabkan oleh adanya perbedaan kepentingan dari beberapa pihak. Perbedaan itu muncul karena perbedaan cara pandang yang didasarkan pada kepentingannya sendiri-sendiri. Dengan permasalahan yang demikian, Wasita menawarkan solusi dengan pemanfaatan berdasarkan pendekatan ekonomi dan budaya. Agar menyentuh dalam sendi-sendi kehidupan, keduanya harus menjadi media penghubung antara masyarakat dengan tinggalan arkeologi.