NADITIRA WIDYA BULETIN ARKEOLOGI VOL. 10 NO. 2 

Pengarang: 

TIM PENYUSUN

Penerbit: 

BALAI ARKEOLOGI KALIMANTAN SELATAN

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

051 (050-059)

ISSN/ISBN: 

1410-0932

Jumlah Halaman: 
158

Buletin Arkeologi Vol. 10 No. 2 ini terdapat 6 (enam) judul tulisan. Meliputi, tulisan Indah Asikin Nurani membahas mengenai temuan-temuan arkeologi di Dolina Kidang dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam pandangannya, telah terjadi hunian berulang di situs tersebut yang dibuktikan oleh adanya temuan rangka manusia dan temuan arkeologi yang berupa spatula (peralatan dalam mempertahankan hidup). Upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan (kepurbakalaan) umumnya dilakukan dengan kajian-kajian dengan maksud mengungkap sejarah dan budaya masa lalu. Nia Mariati Etie Fajari juga melakukan itu terhadap temuan artefak batu di Liang Ulin 2 di Kabupaten Tanah Bumbu. Menurutnya, temuan artefak batu di situs tersebut terdiri atas dua kelompok yaitu alat dan bukan alat. Masih dalam rangka mengungkap sejarah dan budaya masa lalu, Ulce Oktrivia membahas mengenai teknologi, bentuk, fungsi dan motif tenun hias temuan tembikar di halaman Istana Sintang. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pembentukan tembikar dilakukan dengan menggunakan teknik spiral, tekan/pijit, tatap pelandas, roda putar lambat dan cepat, serta gabungan teknik tekan dan roda putar. Dalam upaya mengetahui pendukung budaya, Sunarningsih melakukan penelitian di Situs Jangkung yang berada di tepi sungai, salah satu anak Sungai Tabalong. Hasil penelitiannya memastikan bahwa Situs Jangkung sebagai hunian komunitas Maanyan. Pernyataan yang masih remang-remang mengenai bentuk dan fungsi Sumur Putaran di Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan juga dicoba diungkap oleh Ulce Oktrivia dan Nugroho Nur Susanto. Guna mengungkap hal tersebut, penelitan Sumur Putaran pada tambang Oranje Nassau dilakukan berdasarkan data lapangan, pustaka, serta gambar/foto lama. Para penulisnya menyimpulkan bahwa fungsi Sumur Putaran adalah sebagai rumah mesin. Sementara itu, berdasarkan peran untuk memungkinkan memberi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, Hartatik mencoba mengulas mengenai eksistensi rumah adat Banjar dalam pembangunan yang berkelanjutan.