"NIEUW BRUSSEL" DI KALIMANTAN : PERAN STRATEGIS SUKADANA PADA ABAD KE-19

Pengarang: 

YUSRI DARMADI DAN IKA RAHMATIKA CHALIMI

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KBA - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-198-8

Jumlah Halaman: 
98

Sejarah Maritim khususnya perdagangan di Sukadana pada abad ke-19 dapat dijelaskan dalam beberapa tahapan. Beberapa tahapan tersebut yaitu (1) Perdagangan sebelum dan sesudah Traktat London (1800-1828), (2) Perdagangan pada masa “Nieuw Brussel” (1828-1845), dan (3) Perdagangan pasca “Nieuw Brussel” (1845-1900). Pada penjelasan tahapan perdagangan sebelum dan sesudah Traktat London, Thomas Stamford Raffles menginginkan Kepualauan Karimata sebagai tempat menimbun dagangan. Hal ini menjelaskan bahwa faktor geogafis Kepulauan Karimata yang merupakan wilayah Kerajaan Sukadana memiliki peran strategis dalam jalur perdagangan. Ketika perdagangan Sukadana pada masa Nieuw Brussel sangat kuat sekali faktor politik dalam pengaturan perdagangan atau disebut dengan Ekonomi-Politik Perdagangan. Begitu juga perdagangan pasca Nieuw Brussel, dampak dari ketidakstabilan politik ini menyebabkan perdagangan di Sukadana semakin meredup dan peran tersebut diambil alih oleh Pontianak yang hingga saat ini menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Barat.