PASIR ABAD XVIII-XX KOTA BANDAR MENJADI LANSKAP GUBERNEMEN

Pengarang: 

DANA LISTIANA

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Timur
Rak: 

KTI - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-1202-50-0

Jumlah Halaman: 
96

Buku ini membahas proses perkembangan Pasir sebagai kerajaan yang dikenal sebagai kota dagang utama di pesisir timur Borneo pada abad ke-18 hingga menjadi lanskap yang berada langsung dibawah pemerintahan Hindia Belanda. Pembahasan melihat korelasi antara kedudukan Negeri Pasir dalam perdagangan regional dengan perubahan status pemerintahan yang dialaminya. Hal yang menarik, kehidupan Negeri Pasir, terutama sebelum abad ke-19 ditopang oleh aktivitas perdagangan partikulir. Disamping itu, sejak abad ke-19 Samarinda (Kutai) telah berkembang dan Pasir lebih berperan sebagai pelabuhan hiterland yang produk hutan dan alamnya menjadi komoditas pendukung perdagangan. Perkembangan kota yang dalam tulisan ini dilihat melalui dua komponen dasar pembentuknya yakni pola penyebaran penduduk dan pola penyebaran kesejahteraan menunjukkan bahwa di bawah pemerintah kolonial pun bidang perdagangan lah yang dikembangkan dan dijadikan sandaran kehidupan daerah. Pemukiman di Pasir yang tersebar di pakot-pakot (pasar) sepanjang sungai pedalaman dan pusat perdagangan di ibukota (sebelumnya di kota lama, yakni Kampung Pasir dan kemudian di kota baru yakni Tanah Grogot) mengindikasikan persebaran penduduk berkorelasi dengan penyebaran pasar lingkungan dan pasar wilayah.