PERAHU TRADISIONAL IJON-IJON DI DESA KANDANG SEMANGKON LAMONGAN 

Pengarang: 

SITI MUNAWAROH, AMBAR ADRIANTO, SUWARNO

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

TEK - 694 (690-699)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-71-6

Jumlah Halaman: 
139

Eksistensi perahu dan asal-usul keahlian pembuatan perahu ijon-ijon di Desa Kandang Semangkon setidaknya dikenal setelah Kapal Van der Wijck, yakni kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM Belanda) tenggelam di perairan Lamongan, 20 Oktober 1936. Selain itu ada kisah seorang bernama Surosirokapak berasal dari Madura yang pada tahun 1890 melakukan migrasi dengan naik perahu menggunakan layar bagor/goni dan kemudian mendarat di wilayah Pantura yang sekaligus memperkenalkan ekpedisi laut pada masyarakat Pantura. Berdasarkan kisah tersebut, diyakini bahwa seluruh susunan kontruksi perahu itu oleh nenek moyang mereka dibakukan dan dijadikan pola dasar dari perahu, satu diantaranya dikenal dengan istilah den jon, ijon-ijon atau jongjong. Perahu ijon-ijon oleh masyarakat dikonotasikan sebagai perahu perempuan(wedok) dengan ciri linggi tumpul/papak dan badan gemuk. Terdapat simbol topeng, mata, alis, ukel/sanggul (gelung), mahkota(rambut), dan bunga. Adapun fungsinya untuk menangkap, menyimpan, menampung, mengangkut serta mendinginkan atau mengawetkan ikan. Perahu ini tetap diproduksi dan mampu bertahan di Desa Kandang Semangkon hingga saat ini, dikarenakan, diantaranya tempat galangan kapal dan lokasi sangat strategis, terletak di pinggir pesisir dan jalur jalan Raya Daendels Surabaya-Semarang-Jakarta, tersedia alat komunikasi dan listrik, dan masih ditopang oleh keberadaan sumber daya manusia (tukang pembuat perahu).