SAPRAHAN ADAT BUDAYA MELAYU SAMBAS

Pengarang: 

H. ARPAN. S

Penerbit: 

MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KABUPATEN SAMBAS

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

AIK - 394.1 (390-399)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
59

Dalam kehidupan masyarakat Melayu Sambas, Saprahan merupakan adat tradisi kebiasaan turun temurun dalam menghidangkan makanan yang dilakukan sehari-hari dirumah tangga terutama di desa-desa. Dalam kegiatan yang mengundang tamu seperti pada acara perayaan pesta perkawinan, hataman, syukuran dan lain-lain diberikan hidangan dengan saprahan. Kegiatan ini juga dilakukan jika menerima tamu yang datang kerumah dengan menghidangkan saprahan sederhana saja. Saprahan merupakan acara makan bersama dengan duduk bersila berkelompok yang terdiri dari 6 (enam) orang tiap kelompoknya. Melihat bentuknya, saprahan dibagi menjadi saprahan memanjang dan saprahan pendek. Makna dari saprahan ini melambangkan rasa kebersamaan dan rasa kegotong royongan dengan falsafat berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Sajian disantap langsung disuap dengan tangan sedangkan untuk mengambil lauk pauk digunakan sendok. Makna dan pengertian saprahan dalam masyarakat Melayu Sambas yang identik dengan agama Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang tetap dilestarikan dan terpelihara, berpedoman pada enam rukun iman, dan lima rukun islam. Dilihat dari tingkat dan kelompok saprahan yang ada dan masih berkembang di desa dan dikota dalam masyarakat Sambas hingga sekarang ini meliputi saprahan sangat sederhana, sederhana dan acara pesta.