SEJARAH PERJUANGAN MERAH PUTIH DI SANGASANGA, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Pengarang: 

JUNIAR PURBA

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Timur
Rak: 

KTI - 904.7 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-1202-76-0

Jumlah Halaman: 
60

Perlakuan yang sewenang-wenang dari penjajah membuat hati rakyat terluka. Oleh karena itu, dengan unsur perasaan senasib dan seperjuangan secara diam-diam mereka membentuk organisasi Ksatria yang kemudian berubah menjadi organisasi Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD) dan selanjutnya berubah menjadi Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI). Sebagai badan perjuangan rakyat di Sanga-Sanga BPRI yang dibantu dengan anggota KNIL yang pro Indonesia siap bersama-sama melakukan perjuangan. Kota Sangasanga sebenarnya tidak strategis menjadi areal pertempuran, tetapi karena kehidupan penduduk yang sudah tidak tahan dengan perlakuan para penjajah maka para pejuang secara bersama melakukan perjuangan. Perjuangan itu dikenal dengan Perjuangan Merah Putih di Sangasanga yang puncak perjuangan terjadi pada tanggal 27 Januari 1947 dan berakhir pada tanggal 30 Januari 1947 dengan adanya serangan dari tentara Belanda. Pertempuran yang tidak seimbang baik dari persenjataan dan jumlah pasukan menjadikan Sangasanga jatuh ketangan pasukan Belanda. Apalagi pada saat itu Belanda menggunakan akal liciknya dengan mengelabui para pejuang dengan menaikkan bendera Merah Putih diatas kapal mereka menuju arah Muara Sangasanga. Pejuang mengira ini kapal bantuan, tetapi kesempatan ini dipergunakan Belanda untuk melancarkan tembakan ke arah Sangasanga dan mengakibatkan banyak korban.