TARI KABASARAN SUKU BANGSA MINAHASA

Pengarang: 

MARIA E.TANGKILISAN, DKK

Penerbit: 

BPNB MANADO

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Utara
Rak: 

RKE - 793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-602-9374-70-4

Jumlah Halaman: 
31

Kabasaran dalam dialek Tombulu menyebutnya kawasaran asal kota wasal (wasar) sebutan untuk ayam jantan yang dipotong mahkota di atas kepalanya agar lebih galak ketika menyabung. Yang dinamakan Kabasaran adalah kaum pria yang memakai topi bulu ayam atau bulu burung cendrawasih, memakai senjata tajam tombak atau pedang, busananya dari lilitan dan gantungan kain tenunan ”Bantenan” dan kain ”Patola” tenunan asli Minahasa tiruan kain sutera India serta memakai perisai. Yang terlibat dalam kabasaran adalah semua golongan ”Warandi” (prajurit Tradisional Minahasa dalam pakaian upacara adat). Tari kabasaran berbentuk komando. Semua gerakan tari berdasarkan komando atau aba-aba dari pemimpin tari. Menurut fungsi upacara adat, maka para penari kabasaran menarikan tiga jenis tarian yakni simbolisasi berperang yang dinamakan Cakalele, Lalaya’an adalah simbolisasi bergembira karena menang perang, dan Kumoyak adalah menghormati roh musuh yang terbunuh dalam peperangan.Tarian Kabasaran ini terdiri dari 3 babak yaitu Cakalele, Kumoyak dan Lalayaan yang berasal dari 3 tarian dalam upacara adat yang berbeda. Cakalele dari upacara Ma’wuaya dipimpin oleh si ”si Muaya” pelatih perang, sebelum pergi perang dan setelah kembali dari berperang. Tarian Kumoyak berasal dari upacara Mauri adalah upacara korban kepala manusia dan Lalayaan adalah menetralisir atau menghilangkan panas dari jimat-jimat yang terikat di badan karena sebelumnya jimat itu dipanaskan dekat api (fufu/rao). Masing-masing babak punya 3 gerakan yang berbeda sesuai fungsi.