TOR-TOR DALAM MASYARAKAT MANDAILING

Pengarang: 

HARVINA

Penerbit: 

BPSNT BANDA ACEH

Tahun Terbit: 

2008

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

RKE - 793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
16

Tor-Tor menurut aslinya bukanlah tarian, tetapi sebagai pelengkap gondang (uning-uningan) berdasarkan kepada falsafah adat itu sendiri. Di dalam upacara-upacara adat di Mandailing dimana uning-uningan dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi dengan acara monortor. Pada awalnya monortor ini hanya diadakan pada acara adat margondang, namun dalam perkembangan selanjutnya manortor ini juga sudah dilakukan pada acara hiburan dengan cara memodifikasi tor-tor sedemikian rupa agar lebih menarik bagi penontonnya (mengarah kepada tarian). Tor-tor yang dilakukan dengan gerakan-gerakan tertentu mempunyai ciri kha, makna, sifat dan tujuan-tujuan tertentu. Tor-tor dengan gerakan-gerakan mengikuti irama gondang dilakukan oleh beberapa orang yang terdiri dari 2 sisi. Dalam tor-tor muda mudi, yang dilakukan pertama kali adalah mengundang dan meminta izin kepada orang tuanya. Jika telah diizinkan, maka seterusnya akan diatur penjemputan serta pegantarannya kembali setelah manortor. Di Mandailing senandung yang mengikuti tor-tor adalah Jeir. Dalam perkembangan selanjutnya sudah ada yang memakai onang-onang. Pakaian dari yang manortor haruslah sopan dengan pakaian lengan panjang dan memakai kain yang dilipat sampai lutut serta memakai peci. Agar gerakannya bebas dan sopan, sepatu tidak dipakai.