UPACAR PERTANIAN DALAM SISTEM SUBAK DI BALI

Pengarang: 

I WAYAN SUCA SUMADI, SH, DKK

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Bali
Rak: 

4.5.1 (390

ISSN/ISBN: 

978-602-356-041-7

UPACARA PERTANIAN DALAM SISTEM SUBAK DI BALI
Upacara pertanian di daerah Bali pada umumnya dapat dipilah ke dalam beberapa prosesi baik itu yang dilakukan secara bersama-sama oleh krama subak, maupun yang dilakukan secara individu oleh krama subak itu sendiri. Pada umumnya, upacara tersebut merupakan serangkaian upacara yang dilaksanakan mulai saat mengolah dan mengairi sawah, menanam padi, sampai saat menyimpan padi di lumbung yang pelaksanaannya berbeda-beda antara daerah yang satu dengan lainnya di Bali. Akan tetapi esensi dari upaacra tersebut tetap sama. Secara khusus, upacara pertanian yang dilakukan secara bersama-sama maupun individu sampai saat ini masih dilakukan oleh krama subak di Desa Jatiluwih diantaranya Mapag Toya, Ngendagin, Ngurit/Mewinih. Masyarakat Bali meyakini akan kebesaran Ida Hyang Widhi Wasa/Tuhan YME. Sehingga karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki untuk mewujudkannya, maka dipakailah suatu media untuk menyatakan rasa bhakti atau hormat kepada beliau yaitu melalui media persembahan atau upacara, yang di Bali disebut Yadnya, dengan didasari oleh suatu sikap yang tulus tanpa pamrih. Persembahan ini di samping merupakan salah satu media juga sebagai upaya pelestarian nilai budaya yang didalamnya melekat beberapa fungsi yaitu fungsi kehormatan pada para Dewa/Ida Hyang Widhi Wasa, budaya, sosial dan fisik.