'WARING' JARING NELAYAN PENGETAHUAN TRADISIONAL PENANGKAPAN IKAN KABUPATEN CIREBON

Pengarang: 

AGUS HERYANA, ANI ROSTIYATI, YANTI NISFIYANTI, M. HALWI DAHLAN, HERMANA, ALI GUFRON

Penerbit: 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Jawa Barat
Rak: 

TEK-639.2 (630-639)

ISSN/ISBN: 

978-602-74039-2-5

Jumlah Halaman: 
191

Kata waring dalam keseharian nelayan sudah jarang digunakan. Mereka lebih menyenangi sebutan jarring untuk alat tangkap ikan yang terbuat dari serat sintetis itu. Secara teknis struktur jarring sebagai alat utama, tali-tali, pelampung, dan pemberat. Adapun bahan dan alat untuk membuat jaring secara manual adalah benang sintetis atau alami, coban dan seleran. Selebihnya merupakan keterampilan tangan nelayan dalam menganyam benang sintetis menjadi deretan mata jarring yang membentuk seleranya. Oleh karena itu, pengertian jarring bisa diartikan sebagai tumpukan atau deretan sejumlah mata jaring yang saling sambung-menyambung antara satu mata jaring dengan mata jaring lainnya. Eksistensi jaring tidaklah berdiri sendiri. Pengoperasiannya selalu berkaitan dengan alat lain, yaitu perahu. Keberadaan jaring sebagai alat tangkap perikanan memiliki makna nilai budaya yang patut diteladani. Kebersamaan dan kerja sama yang tercakup dalam sebutan gotong royong menjadi ciri utama nelayan dalam melaut. Tanpa nilai kedua tersebut, sebuah perahu akan menjadi api dalam sekam. Nilai budaya lain adalah keterbukaan dan menghormati orang yang duluan menempati satu lokasi penangkapan ikan. Nilai budaya lain adalah penghormatan kepada orang yang telah terlebih dahulu menebarkan jaring di suatu lokasi tertentu. Jika sudah ada jaring, maka nelayan lain tidak berhak lagi menebar jaring di dalam lokasi tersebut.